Loading...

Sulawesi Tengah, 2014 – Menjadi  seorang perempuan bukan halangan bagi Evan Susanti Hanafi Bande (Eva Bende) untuk menjadi aktivis yang memperjuangkan tanah Petani Desa Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.  Sejak tahun 1990,  Tanah Desa Luwuk memang sudah menjadi sumber konflik antara para warga desa dan 2 (dua) perusahaan yang melakukan  kegiatan disana, yaitu PT Kurnia Luwuk Sejati (PT KLS) dan PT Berkat Hutan Pusaka (PT BHP). PT KLS merupakan perusahaan kelapa sawit yang memiliki konsesi Hak Guna Usaha (HGU) seluas 6.010 Ha. Sedangkan PT BHP merupakan perusahaan hutan tanaman industri (HTI) memiliki izin HTI seluas 13.400 Ha.

Konflik antara PT BHP, PT KLS dan warga Desa Luwuk menimbulkan berbagai permasalahan, mulai dari perampasan tanah adat, penggusuran lahan bersertifikat, sengketa dalam proyek transmigrasi, pembabatan hutan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, perluasan sawit di wilayah Suaka margasatwa Bangkiriang dan kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit tanpa izin, hingga kriminalisasi warga.

Mulai tahun 2009, Eva Bende yang merupakan Koordinator Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS) Sulawesi Tengah mulai mendampingi warga Desa Luwuk khususnya para petani untuk memperjuangkan tanah yang mereka miliki. Eva Bende bersama para warga desa Luwuk melakukan banyak perlawanan. Puncak perlawanan mereka terjadi pada tahun 2011. Pada bulan Mei 2011, PT KLS secara sengaja melakukan penimbunan terhadap jalan-jalan menuju lahan-lahan perkebunan maupun pertanian milik petani. Penimbunan ini didukung oleh ± 350 orang aparat TNI yang berasal dari KODIM 1308 Luwuk.

Pada awalnya, warga desa Luwuk meminta secara baik-baik kepada PT KLS untuk segera membuka jalan yang menuju lahan mereka. Akan tetapi, karena PT KLS menolak, warga desa Luwuk menjadi emosi dan membakar 1 (satu) buah ekskavator, 1 (satu) buah doser dan 1 (satu) camp milik PT KLS. Peristiwa anarkis tersebut melibatkan Desa Piondo, Desa Bukit Jaya, Desa Singkoyo, Desa Mekarsari, Desa Moilong, Desa Tou dan para penambang emas yang meminta agar jalan yang menjadi jalur kantong produksi dapat dibuka oleh PT.KLS.

Oleh karena kerusuhan anarkis tadi, 23 (dua puluh tiga) orang petani di tangkap. Selain para petani, Eva Bende juga ditangkap. Baik para petani dan Eva Bende dijerat dengan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan untuk melakukan tindak kekerasan.

Pasal 160 KUHP

“Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”

Eva Bende sendiri di tahan selama 4 bulan 25 hari sebelum vonis hakim dijatuhkan. Pada putusan tingkat pertama, Eva Bende divonis bersalah dan dipidana penjara selama 4 tahun 6 bulan. Walaupun sudah dilakukan upaya banding dan kasasi, `putusan pidana Eva Bende tetap berlaku. Pada 21 agustus 2014 Eva tmengajukan Permohonan Peninjauan Kembali (PK) melalui kuasa hukumnya yang tergabung dalam Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Aktivis Dan Petani Banggai.

Hal lain yang menjadi sorotan adalah tidak ditangkapnya Murad Husain, pemilik PT KLS, yang telah merusak kawasan hutan konservasi sejak tahun 1996. Murad membuka perkebunan sawit skala besar di Toili Kabupaten Banggai. KLS mendapat izin pengelolaan HTI dengan dana pinjaman pemerintah untuk penanaman sengon dan akasia Rp11 miliar. Hingga kini dana tidak dikembalikan dan lahan HTI malah jadi kebun sawit.

Namun akhirnya, pada tanggal 22 Desember 2014, tepatnya pada hari Ibu, Eva Bende keluar dari penjara setelah mendapatkan grasi dari Presiden Joko Widodo.  Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa  grasi diberikan karena ia tahu bahwa Eva Bende memperjuangkan hak-hak rakyat yang berkaitan dengan tanah.  Eva Bende tetap meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk membebaskan para petani yang terkena kasus yang sama seperti dirinya.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai kasus ini bisa melihat dari sumber berikut:

  1. http://www.mongabay.co.id/2014/05/18/pejuang-petani-eva-bande-ditangkap-giliran-kasus-bos-sawit-malah-dilupakan/
  2. http://www.solidaritasperempuan.org/kronologi-kasus-eva-bande/
  3. https://nasional.tempo.co/read/630135/eva-bande-dipenjara-gara-gara-bela-petani
2018-09-05T18:09:06+00:00