Loading...

Jawa Tengah, 2014-Cayadi bin Rabu dan Carman bin Tuyah merupakan warga Desa Karanggeneng, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sehari-harinya, mereka berprofesi sebagai petani yang menggarap lahan milik mereka sendiri. Akan tetapi, profesi tersebut terancam ketika PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) memutuskan untuk mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di atas lahan pertanian milik Cayadi dan Carman.

Selain lahan pertanian di desa Karanggeneng, desa lainnya yang terkena proyek pembangunan PLTU Batubara Batang adalah Desa Ujungnegoro, Ponowareng, Wonokerso, dan Roban. Pembangunan PLTU Batubara Batang membutuhkan lahan seluas 226 hektar, sehingga banyak lahan pertanian di kelima desa tersebut yang dialihfungsikan dengan cara pembebasan tanah.

Dalam melakukan pembebasan tanah, PT BPI menggunakan bantuan dari TNI dan Polisi. Oknum TNI dan Polisi datang ke rumah warga dan meminta agar para warga menjual tanah mereka. Banyak tekanan dan intimidasi yang dilakukan oleh TNI dan Polisi sehingga banyak warga yang pada akhirnya memilih untuk menjual lahan yang mereka punya. Akan tetapi, masih ada warga yang memilih untuk mempertahankan lahan mereka dan melakukan perlawanan, salah duanya adalah Cayadi bin Rabu dan Carman bin Tuyah.

Namun demikian, perlawanan yang dilakukan oleh Cayadi dan Carman mengakibatkan keduanya di hukum penjara selama 7 (tujuh) bulan. Persoalan dimulai ketika PT BSI mengucurkan dana untuk renovasi masjid Darussalam yang ada di desa Karanggeneng. Cayadi dan Carman menyarankan agar teralis besi yang terpasang di masjid dicopot saja karena teralis tersebut merupakan sumbangan dari PT BSI. Akan tetapi, salah satu warga yang bernama Sukadar menolak usulan tersebut. Perdebatan tersebut berlangsung yang berujung pada Sukadar mengalami luka-luka. Sukadar menuduh Cayadi dan Carman yang memukul dirinya dengan batu dan oleh karena itu ia segera melaporkan Cayadi dan Carman ke Polisi atas tuduhan tersebut. Padahal, berdasarkan pada keterangan saksi di pengadilan, tidak ada satu saksipun yang melihat secara jelas bahwa Cayadi dan Carman yang memukul batu tersebut ke muka Sukadar.

Laporan tersebut pun di teruskan sampai ke depan meja hijau. Untungnya, pada tahun 2011, vonis yang dikeluarkan oleh pengadilan negeri Batang menyatakan bahwa Cayadi dan Carman tidak terbukti telah melakukan tindak pidana penganiayaan karena kurangnya alat bukti yang tersedia. Putusan tersebut diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jawa Tengah.  Selama masa penuntutan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Batang, Cayadi dan Carman diintimidasi untuk menjual lahan sawah mereka. Kedua orang tersebut tidak bergeming dan tetap mempertahankan lahan yang mereka miliki. Tidak menyerah, Kejaksaan Negeri Batang melayangkan kasasi atas kasus Cayadi dan Carman. Akhirnya, pada tahun 2014, Mahkamah Agung memvonis Cayadi dan Carman terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan dan dipidana selama 7 (tujuh) bulan penjara.

Pada kenyataannya, warga desa yang dikriminalisasi karena menolak PLTU Batang bukan hanya Cayadi dan Carman saja. Pada tahun 2013,  Sebelum kasus Cayadi dan Carman, sudah ada 5 (lima) orang warga Batang lainnya yang ditahan karena menolak pembangunan PLTU Batubara Batang. Kelima orang tersebut bernama Castono, M Ali, Tafrihan. Riyono, Kirdar Untung dan Sabarno.  M. Ali dan Castono divonis bebas karena tidak terbukti memenuhi unsur yang didakwakan jaksa sedangkan Riyono, Kirdar Untung dan Sabarno terbukti bersalah dan dihukum 5 (lima) bulan 5 (lima) hari penjara.

Nama Pekerjaan Tuduhan Vonis
Castono Petani Penyerangan terhadap orang yang melakukan Survey Bebas
M. Ali Petani Penyerangan terhadap orang yang melakukan Survey Bebas
Tafrifan Petani Penyerangan terhadap orang yang melakukan Survey Pidana 7 Bulan
Riyono Petani Penyerangan terhadap orang yang melakukan Survey Pidana 7 Bulan
Kirdar Untung Petani Penyerangan terhadap orang yang melakukan Survey Pidana 7 Bulan
Subarno Petani Penyerangan terhadap orang yang melakukan Survey Pidana 7 Bulan
Cayadi Petani Penyanderaan terhadap orang yang melakukan Survey Pidana 7 Bulan
Carman Petani Penyanderaan terhadap orang yang melakukan Survey Pidana 7 Bulan

Pada tanggal 6 Mei 2014, setelah jatuhnya vonis penjara terhadap Cayadi dan Carman, ribuan warga desa Ujungnegoro, Ponowareng, Wonokerso, Roban dan Karanggeneng melakukan demonstrasi didepan kantor Kejaksanaan Negeri Batang. Massa demonstrasi memblokir Jalan Raya Pantura Batang, tepat di depan kantor Kejari. Bahkan, jalur Jakarta-Semarang yang melalui Jalan Jendral Sudirman Batang pun macet, hingga lebih dari 10 (sepuluh) kilometer.  Koordinator demonstrasi, Roidi, menyatakan bahwa vonis yang diberikan oleh Mahkamah Agung kepada Cayadi dan Caman itu sarat dengan kepentingan pembangunan PLTU Batubara Batang sehingga seharusnya Cayadi dan Caman divonis bebas.

Beberapa sumber informasi yang dapat dijadikan rujukan dalam mendalami kasus Cayadi dan Carman adalah:

  1. Putusan Pengadilan Negeri Batang No. 274/Pid.B/2012/PN.Btg atas nama Terdakwa Cayadi dan Carman.
  2. https://www.merdeka.com/khas/petani-dibungkam-agar-diam-konflik-pltu-batang-2.html
  3. http://www.mongabay.co.id/2014/05/23/tolak-pltu-batang-warga-berakhir-di-balik-jeruji/
  4. http://kbr.id/04-2013/5_terdakwa_kriminalisasi_pltu_batang_bebas/53673.html
  5. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20151005140816-12-82878/greenpeace-tujuh-warga-dibui-karena-tolak-pltu-batang
2018-09-05T18:02:28+00:00